Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Hati Muslimah di Tengah Bulan Rajab?

Ngopi Cangkir Blog — Di suatu malam yang sunyi di pertengahan Rajab, seorang wanita muslimah terbangun sebelum fajar menyingsing. Sebuah perasaan aneh menggelayuti hatinya, bukan karena masalah yang menimpa, melainkan sebuah kegelisahan yang tak terlukiskan. Ia terduduk di ranjangnya, mata terpaku pada jarum jam yang berputar perlahan.
“Kenapa hatiku terasa penuh sesak… tapi aku tak mengerti apa isinya?”, bisiknya seorang diri.
Langkah kakinya membawanya menuju sajadah. Di bawah remang lampu kamar, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah ada panggilan lembut yang menyentuh relung jiwanya. Bukan suara yang terdengar, bukan pula ilham yang datang secara tiba-tiba. Hanya sebuah bisikan halus yang terasa begitu dekat di dalam hatinya. Seolah Allah Subhannahu Wa Ta’ala sedang menyapa jiwanya, berbisik:
“Wahai hamba-Ku, lihatlah dirimu kembali. Pertengahan Rajab telah tiba… bagaimana keadaan hatimu saat ini?”
Wanita Muslimah itu tidak sendiri merasakan hal ini. Banyak muslimah lainnya pun mengalami momen serupa ketika pertengahan bulan-bulan mulia mendekat. Bagi sebagian, ini adalah dorongan untuk memperbaiki diri. Bagi yang lain, ini adalah kerinduan yang membuncah untuk mendekatkan diri pada Allah. Ada pula yang merasakan penyesalan yang tiba-tiba menghantam hati.
Semua ini bukanlah suatu kebetulan belaka. Karena pertengahan Rajab membawa getaran spiritual yang mampu menyentuh hati seorang muslimah secara halus, namun mendalam.
Tulisan ini mengajak Anda untuk menyelami lebih dalam momen-momen batin tersebut, mencoba memahami apa yang sebenarnya Allah Subhannahu Wa Ta’ala bisikkan kepada para muslimah yang merindukan perubahan, kedekatan, dan jalan pulang kepada-Nya.
1. Pertengahan Rajab: Saat Hati Muslimah Memberi Tanda

Rajab dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Ustadzah Halimah Alaydrus sering menyampaikan pesan, Rajab adalah bulan untuk membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan. Sya’ban adalah bulan untuk mempersiapkan bekal amal. Dan Ramadhan adalah bulan untuk berjalan menuju Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
Maka, pertengahan Rajab menjadi sebuah tanda kecil yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya pada diri sendiri dengan jujur. Pertanyaan yang mungkin membuat hati kita tersentuh atau bahkan tertunduk malu:
”Sudahkah aku memulai perjalanan ini?”
Di sinilah Allah Subhannahu Wa Ta’ala sering kali berbisik pada hati seorang muslimah:
Wahai hamba-Ku, Aku tahu betapa beratnya perjalananmu, tapi ingatlah Aku selalu ada di dekatmu.
Setiap kebaikan kecil yang kamu lakukan tidak akan pernah hilang. Aku menjaganya dengan sempurna.
Kamu tidak pernah terlambat. Pertengahan Rajab adalah kesempatan baru untuk memulai segalanya.
Seorang muslimah di usia 18-45 tahun berada dalam fase kehidupan yang penuh dengan dinamika. Ada yang masih fokus pada pendidikan, mengejar karier, menjadi seorang istri dan ibu, menghadapi masa transisi, atau bahkan baru belajar membangun hubungan yang lebih dalam dengan Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
Di tengah berbagai tekanan hidup, momen perenungan di bulan Rajab datang bagaikan secercah cahaya yang menenangkan. Halus, namun cukup terang untuk ditangkap oleh hati yang mau mendengarkan.
2. Bisikan Pertama: AKU Memperhatikanmu, Bahkan Saat Kamu Lelah

Salah satu renungan yang paling mengena bagi seorang muslimah adalah kesadaran bahwa Allah Subhannahu Wa Ta’ala selalu melihat segala yang ia lakukan. Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah diperhatikan oleh orang lain:
- Lelahnya bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga tercinta
- Kuatnya menahan diri untuk tidak membalas perkataan yang menyakitkan
- Diamnya dalam kesedihan agar tidak merepotkan orang lain
- Khusyuknya dalam sujud meski tidak ada seorang pun yang menyaksikan
Di pertengahan Rajab, banyak muslimah mulai menyadari bahwa selama ini, meskipun sering kali lalai dalam menjalankan perintah-Nya, Allah Subhannahu Wa Ta’ala tidak pernah meninggalkannya. Allah Subhannahu Wa Ta’ala seakan berfirman:
Wahai hamba-Ku, Aku tidak hanya menilai dari hasil akhir yang kamu capai. Aku melihat setiap usaha yang kamu lakukan. Aku melihat ketulusan hatimu. Aku melihat air mata yang kamu sembunyikan.
Ketika hati seorang muslimah mampu menangkap bisikan ini, biasanya akan muncul tiga perasaan:
- Lega, karena menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi cobaan hidup.
- Syukur, karena Allah Subhannahu Wa Ta’ala begitu dekat dan selalu menyayanginya.
- Malu, karena sering kali melupakan Allah Subhannahu Wa Ta’ala padahal Ia tidak pernah menjauh.
Rasa malu seperti inilah yang paling indah. Karena melahirkan niat untuk berubah menjadi lebih baik, bukan karena takut, melainkan karena cinta kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
3. Bisikan Kedua: Mendekatlah! AKU Merindukanmu

Ada muslimah yang sangat peduli pada keluarga, sahabat, pekerjaan, dan semua orang di sekitarnya… kecuali dirinya sendiri.
Ada pula yang sudah lama tidak berdo’a dengan sepenuh hati, hanya sekadar berucap di bibir saja.
Ada yang merasa ibadahnya terasa hambar. Ada yang hatinya sudah lama tidak tersentuh oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ada yang merasa do’anya tidak pernah sampai ke langit.
Pertengahan Rajab menjadi momen ketika Allah Subhannahu Wa Ta’ala membangunkan kembali sisi spiritualitas dalam diri seorang muslimah:
- Tiba-tiba timbul keinginan untuk memperbaiki kualitas sholat
- Tergerak untuk kembali membaca Al-Qur'an
- Berniat untuk memulai amalan-amalan sederhana
- Ingin memeluk diri sendiri dan berkata: “Ayo, kita mulai lagi dari awal…”
Bisikan ini terdengar sangat lembut, tidak menghakimi, tidak pula mengancam. Hanya sebuah ajakan yang tulus. Seolah Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman:
Kembalilah kepada-Ku, wahai hamba-Ku. Aku merindukanmu, bahkan sebelum kamu merindukan-Ku.
Bagi seorang muslimah, bisikan ini adalah ungkapan cinta yang paling menyentuh hati.
4. Bisikan Ketiga: Perbaikan Tidak Harus Sempurna, Cukup Dimulai Saja!

Muslimah sering kali terjebak dalam perfeksionisme dalam beribadah.
- Ingin selalu tampil sempurna
- Ingin langsung konsisten
- Ingin melakukan perubahan besar secara instan
Padahal, perubahan yang paling indah adalah perubahan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus dan istiqomah.
Di pertengahan Rajab, Allah Subhannahu Wa Ta’ala seakan mengingatkan:
Perbaikan tidak harus sempurna. Yang Aku lihat adalah kemauanmu untuk memulai.
Renungan di bulan Rajab biasanya muncul dalam bentuk:
- Keinginan untuk meningkatkan hafalan Al-Qur’an
- Dorongan untuk lebih menyayangi diri sendiri
- Niat untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan kenangan masa lalu
- Kebutuhan untuk memaafkan seseorang yang pernah melukai hati
- Kebutuhan untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah diperbuat
Semua ini adalah pintu-pintu kecil yang mengantarkan kita menuju Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Dan pintu kecil yang dibuka dengan hati yang tulus akan membawa kita pada perubahan yang luar biasa.
5. Amalan Muslimah di Pertengahan Rajab: Sederhana, Namun Mampu Mengubah Arah Hidup

Tulisan ini tidak mengajak Anda untuk melakukan amalan-amalan yang berat dan memberatkan. Justru sebaliknya, amalan-amalan sederhana yang mampu membentuk hati secara perlahan, sesuai dengan tuntunan para ulama’, termasuk pesan-pesan yang sering disampaikan oleh guru-guru seperti Ustadzah Halimah Alaydrus.
- Berzikir Astaghfirullah dengan sepenuh hati: Tidak perlu sampai ribuan kali, cukup 33-100 kali saja. Lafalkan dengan perlahan, resapi maknanya, dan hadirkan hati.
- Bersholawat 100 kali: Sholawat mampu melembutkan hati, memperbaiki akhlak dan menenangkan jiwa.
- Bersedekah, meskipun kecil: Tidak perlu memberikan banyak, seribu rupiah pun sudah cukup.
- Melaksanakan sholat taubat dua rakaat: Lakukan kapan saja Anda merasa siap. Pertengahan Rajab adalah waktu yang tepat untuk memulai.
- Menjaga lisan dari perkataan yang buruk: Ini adalah amalan yang sangat penting bagi seorang muslimah, terutama yang sedang berjuang melawan emosi, tekanan hidup atau rasa lelah yang menumpuk.
Amalan ini membersihkan debu-debu batin yang menghalangi cahaya ilahi.
Sholawat juga membuka pintu cinta kepada Rasūlullāh ﷺ, cinta yang menjadi kunci perjalanan spiritual seorang muslimah.
Yang terpenting adalah melatih hati untuk ringan dalam memberi.
Ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kembali kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
6. Momen Hati yang Sering Disentuh Allah Subhannahu Wa Ta’ala di Pertengahan Rajab

Ada beberapa momen batin yang sering dirasakan oleh seorang muslimah tanpa ia sadari. Dan justru di saat itulah Allah Subhannahu Wa Ta’ala mengetuk hatinya.
- Ketika hati tiba-tiba rindu untuk menangis kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Itu bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah undangan dari-Nya.
- Ketika merasa hidup berantakan padahal tidak ada masalah besar yang terjadi. Sering kali, itu adalah pertanda bahwa kita perlu memperbaiki hubungan dengan Allah Subhannahu Wa Ta’ala, bukan mencari kesalahan di luar diri kita.
- Ketika muncul keinginan untuk memperbaiki diri tanpa alasan yang jelas. Itu adalah sebuah anugerah dari Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
- Ketika Allah Subhannahu Wa Ta’ala menjauhkan kita dari seseorang atau situasi tertentu. Sering kali, itu adalah bentuk perlindungan dari-Nya, meskipun saat itu terasa sangat menyakitkan.
- Ketika hati tiba-tiba menjadi lebih sensitif terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, nasihat atau kisah-kisah ulama’. Itulah saat di mana hati kita mulai hidup kembali.
7. Pertengahan Rajab Sebagai Cermin Diri: Apa yang Allah Tunjukkan Kepada Kita?

Allah Subhannahu Wa Ta’ala tidak membutuhkan ibadah kita. Justru kitalah yang membutuhkan-Nya. Dan di pertengahan Rajab, hati seorang muslimah biasanya menjadi lebih jernih untuk melihat:
- Kekurangan dan kelemahan diri
- Kelembutan dan kasih sayang Allah Subhannahu Wa Ta’ala
- Harapan baru yang Allah Subhannahu Wa Ta’ala bukakan
- Jalan pulang yang sebenarnya selalu ada di hadapan kita
Terkadang, Allah Subhannahu Wa Ta’ala tidak berbicara melalui kata-kata, melainkan melalui perasaan. Saat seorang muslimah merasa:
- Gelisah tanpa sebab yang jelas
- Rindu untuk memperbaiki diri
- Ingin berhenti merasa lelah dan kembali kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala
- Ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin
…itu semua adalah tanda bahwa Allah Subhannahu Wa Ta’ala sedang menuntun hatinya.
8. Membiarkan Hati Disentuh: Bagaimana Seorang Muslimah Menyambut Bisikan Itu?

Tidak semua bisikan hati harus diikuti! Namun, ada bisikan yang justru harus disambut dengan sukacita:
Bisikan yang membuat kita ingin kembali kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
Berikut adalah cara sederhana untuk menyambutnya di pertengahan Rajab:
- Tenangkan diri sejenak. Matikan semua gangguan dari dunia luar. Buka hati Anda. Heningkan pikiran. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah lima menit untuk merasakan ketenangan.
- Tuliskan apa yang sedang Anda rasakan. Muslimah cenderung memproses perasaan melalui kata-kata. Menulis dapat membuka pintu jiwa.
- Mulai satu amalan sederhana saja. Cukup satu, jangan langsung mencoba sepuluh amalan sekaligus.
- Cari ilmu, meskipun sedikit. Satu video singkat dari seorang guru yang menenangkan hati dapat membuka pintu perubahan.
- Mohonlah kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala untuk menuntun setiap langkah Anda. Karena hati kita adalah milik-Nya.
9. Ketika Hati Mulai Lembut: Ujian Kecil Mungkin Akan Datang

Aneh, tapi nyata: ketika seorang muslimah berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala, ujian kecil sering kali datang menghampiri.
Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menguatkan niat kita. Setelah pertengahan Rajab:
- Mungkin akan ada konflik kecil dengan orang terdekat
- Mungkin hati tiba-tiba menjadi lebih sensitif dari biasanya
- Mngkin rasa malas akan menghantui
- Mungkin godaan masa lalu akan kembali
- Mungkin akan ada orang yang sengaja memancing emosi
Semua itu bukanlah tanda bahwa kita telah gagal. Justru itu adalah bagian dari proses. Allah Subhannahu Wa Ta’ala seakan berfirman:
Aku ingin melihat seberapa sungguh-sungguh kamu dalam meraih ridho-Ku.
Dan proses ini, meskipun melelahkan, adalah bukti bahwa Allah Subhannahu Wa Ta’ala sedang memperhatikan kita.
10. Pertengahan Rajab dan Jalan Menuju Ramadhan

Rajab bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal yang baru. Pertengahan Rajab bukanlah penutup, melainkan sebuah pintu gerbang. Ulama’ mengatakan:
Rajab adalah waktu untuk menanam benih kebaikan
Sya'ban adalah waktu untuk menyiram benih tersebut
Ramadhan adalah waktu untuk memanen hasil dari benih yang telah ditanam
Jika seorang muslimah mulai bergerak di pertengahan Rajab, ia tidaklah terlambat. Allah Subhannahu Wa Ta’ala tidak menilai siapa yang lebih dulu memulai. Allah Subhannahu Wa Ta’ala melihat siapa yang terus berjalan di jalan-Nya.
Seorang muslimah yang mulai bergerak hari ini bisa jadi memiliki derajat yang sama dengan muslimah yang sudah memulai sejak awal Rajab. Karena yang menentukan bukanlah kapan kita mulai, melainkan seberapa tulus hati kita dalam beribadah.
11. Kesimpulan

Pertengahan Rajab adalah momen ketika Allah Subhannahu Wa Ta’ala sering kali mengetuk hati seorang muslimah dengan cara yang sangat lembut. Melalui rasa gelisah, kerinduan untuk berubah, atau kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah Subhannahu Wa Ta’ala seakan membisikkan:
AKU melihatmu…
AKU merindukanmu…
Mulailah, meskipun hanya dengan hal kecil
AKU di sini, dan AKU tidak pernah menjauh dari sisimu
Jika hati seorang muslimah mampu menangkap bisikan ini, maka itu bukanlah sebuah kebetulan. Itu adalah sebuah undangan. Undangan untuk kembali ke jalan yang mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala, memperkuat iman, dan menyambut Ramadhan dengan jiwa yang lebih hidup.
Lalu, bisikan mana yang paling Anda rasakan di pertengahan Rajab kali ini?
Post a Comment