Di Tengah Keheningan 27 Rajab: Sebuah Refleksi Diri
Ngopi Cangkir Blog — Malam itu datang tanpa janji apa pun. Langit tampak seperti biasanya, sebuah kanvas hitam tanpa bintang yang mencolok, seolah-olah malam melaksanakan tugasnya tanpa keistimewaan. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam langkah kaki saya saat memasuki lingkungan Pesantren Sidogiri. Atmosfer di sana selalu terasa unik: kaya akan sejarah, mendalam dalam makna dan tulus dalam esensinya.
Saya datang bukan untuk mencari jawaban atau merasa gelisah. Saya juga tidak mengharapkan petunjuk ilahi datang secara tiba-tiba. Tujuan saya sederhana: duduk di beranda pesantren, menikmati aroma tanah yang membawa kenangan masa lalu ketika hidup terasa lebih sederhana dan murni.
Namun, malam itu adalah 27 Rajab, sebuah malam yang sering saya dengar dan baca menyimpan keheningan yang mendidik.
Saat angin bertiup melalui dedaunan pohon mangga dan waktu seolah berhenti, saya merasakan sesuatu yang tak terduga: sebuah keheningan yang berbicara.
Pada saat itu, saya belum menyadari bahwa keheningan ini akan mengubah pandangan saya tentang kehidupan.
1. Sidogiri dan Keheningan yang Membangkitkan: Awal dari Sebuah Kontemplasi
Setiap pesantren memiliki karakteristiknya sendiri. Sidogiri, dengan aroma buku-buku klasik, suara para santri yang mengaji di beranda dan derit lantai kayu tua, menciptakan suasana yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya.
Pada malam 27 Rajab itu, para santri masih membaca kitab suci dengan ritme yang khas: serempak namun individual. Suara mereka terdengar seperti gelombang kecil yang naik dan turun, menciptakan kedamaian yang tidak memaksa.
Saya duduk di bawah cahaya kuning redup. Cahaya itu tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat wajah-wajah muda yang sedang menghafal teks-teks kuno.
Di tengah suasana itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri:
Mengapa hati saya terasa tertarik ke masa lalu? Mengapa kedamaian yang hilang itu tiba-tiba hadir kembali?
Saya mencoba mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi suara hati tidak bisa dibungkam sepenuhnya. Ia semakin mendesak untuk didengarkan.
Dan malam itu, di Pesantren Sidogiri, saya akhirnya benar-benar mendengarkannya.
Inilah awal dari catatan pribadi yang saya tulis dalam pikiran saya, sebuah catatan yang kemudian menjadi refleksi hidup paling jujur dalam perjalanan saya.
2. 27 Rajab: Malam yang Memulihkan Kesadaran
Bulan Rajab sering dianggap sebagai bulan yang menenangkan. Tidak semeriah Ramadhan yang penuh dengan ibadah, tidak sepadat Sya’ban dengan persiapan menuju ampunan dan kemenangan. Rajab lebih seperti jembatan yang tenang bagi mereka yang ingin menata kembali langkah-langkah mereka.
Pada malam 27 Rajab, umat Islam mengenang perjalanan luar biasa Rasūlullāh ﷺ Isra’ dan Mi’raj, sebuah perjalanan yang tidak hanya fisik tetapi juga spiritual.
Di Sidogiri, peringatan 27 Rajab tidak dirayakan dengan kemeriahan. Tidak ada dekorasi berlebihan atau lampu warna-warni. Yang ada hanyalah keheningan yang mengingatkan kita pada perjalanan spiritual Nabi.
Ketika saya melihat para santri membaca kitab Nazhmu Sittina, sebuah penjelasan indah tentang perjalanan Isra' Mi'raj, saya bertanya-tanya:
Bagaimana mungkin manusia biasa seperti saya berani merasa lelah saat mengingat Nabi berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit, tanpa keluhan?
Pertanyaan itu menusuk, tetapi bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menyadarkan.
Saat itulah saya merasa bahwa malam 27 Rajab bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang peristiwa kecil yang terjadi di dalam hati kita.
3. Keheningan yang Penuh Makna
Keheningan sering disalahpahami. Banyak orang berpikir bahwa keheningan adalah ketiadaan: tidak ada suara, tidak ada aktivitas, tidak ada gerakan. Padahal, keheningan seringkali olebih kaya daripada kebisingan.
Di beranda Sidogiri, saya merasakan bahwa keheningan mengalir seperti air, mengisi ruang-ruang dalam diri yang sebelumnya saya abaikan, ruang yang sudah lama kosong, bukan karena tidak terisi, tetapi karena saya sendiri tidak pernah memperhatikannya. Saya teringat kata-kata salah seorang guru saya:
Hening itu bukan kosong. Hening itu adalah keadaan ketika hati berhenti berlari.
Dan malam itu, saya menyadari betapa seringnya saya berlari, mengejar sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak yakin apa. Keheningan 27 Rajab membuat saya berhenti.
- Berhenti untuk mendengar
- Berhenti untuk melihat
- Berhenti untuk merasakan
- Berhenti untuk jujur
4. Pertemuan dengan Diri Sendiri
Saya selalu berpikir bahwa refleksi hanya dilakukan dalam keadaan sulit, ketika hati membutuhkan jawaban. Tetapi malam itu, saya tidak merasa kacau. Justru karena itulah saya lebih mudah mendengar suara hati.
Saya mendapati diri saya duduk diam, membiarkan angin malam menggerakkan sarung yang saya kenakan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya merasakan sesuatu:
Saya bertemu dengan diri saya sendiri!
- Bukan diri yang ditampilkan di media sosial
- Bukan diri yang menanggung beban pekerjaan
- Bukan diri yang selalu berusaha terlihat baik-baik saja
Tetapi diri yang asli, polos dan lelah menjadi orang lain.
Saya bertanya:
- Apa sebenarnya yang sedang saya kejar?
- Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar damai?
- Apakah saya masih mengenali tujuan hidup saya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu per satu, seperti anak kecil yang mengetuk pintu kamar, meminta perhatian.
Saya tidak menjawab semuanya malam itu, tetapi saya mendengarnya dan itu sudah lebih dari cukup.
5. Pelajaran dari Para Santri: Kesederhanaan yang Terlupakan
Ada sesuatu yang selalu membuat saya kagum pada Sidogiri: para santri tidak sibuk mencari motivasi. Mereka tidak membutuhkan kutipan inspiratif, seminar atau konten yang membangkitkan semangat.
Mereka belajar karena belajar adalah bagian dari hidup mereka.
Dan saya melihatnya sendiri malam itu. Di usia remaja, mereka sudah terbiasa bangun sebelum subuh, mengaji setelah subuh, belajar hingga larut malam, dan mengulang hafalan sambil berdiri di bawah lampu koridor yang redup. Dan mereka melakukan semua itu tanpa mengeluh.
Melihat mereka mengaji dengan khusyuk pada malam 27 Rajab, saya merasa malu. Bukan karena saya tidak sebaik mereka, tetapi karena saya lupa bahwa ketulusan adalah bentuk syukur yang paling sederhana.
Di dunia yang serba sibuk, saya sering mencari alasan, menunda-nunda dan merasa lelah sebelum memulai pekerjaan. Sementara para santri, dengan fasilitas seadanya, justru berjalan tanpa banyak bertanya mengapa.
- Mereka menjalani, bukan mengeluh
- Mereka bergerak, bukan menunggu
- Mereka bersyukur tanpa mengumumkan
Dan malam itu, saya merasa sedang belajar kembali arti sebuah langkah kecil.
6. 27 Rajab dan Refleksi tentang Tujuan Hidup
Hari-hari saya sebelumnya dipenuhi dengan rutinitas: pekerjaan, rapat, target, jadwal dan pesan yang harus dibalas. Semuanya terasa penting, padahal tidak semuanya mendesak, apalagi bermakna.
Justru di malam 27 Rajab itu, tanpa daftar tugas, tanpa perangkat elektronik, dan tanpa notifikasi, saya baru menyadari:
Saya terlalu banyak melakukan hal-hal kecil yang menguras energi, tetapi terlalu sedikit melakukan hal-hal besar yang menghidupkan.
Isra Mi'raj adalah perjalanan besar, bukan hanya dalam jarak, tetapi juga dalam makna.
Sedangkan saya, tanpa sadar, terjebak dalam perjalanan kecil yang berputar-putar. Saya bertanya pada diri sendiri:
- Apakah saya hidup dengan sadar atau hanya sekadar menjalani?
- Apakah saya berjalan menuju sesuatu atau justru menjauh dari diri sendiri?
- Apakah saya masih ingat tujuan yang pernah saya ikrarkan puluhan kali dalam do’a?
Sekali lagi, saya tidak mendapatkan jawaban malam itu. Tetapi untuk pertama kalinya, saya berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang selama ini saya hindari. Itu sudah merupakan sebuah langkah maju.
7. Pelajaran dari Isra’ Mi’raj: Perjalanan Batin Lebih Berat dari Perjalanan Fisik
Ketika saya mendengar kembali kisah Isra’ Mi’raj yang dibacakan oleh seorang santri di musholla, saya menyadari sesuatu yang sering saya abaikan:
Perjalanan spiritual Nabi jauh lebih berat daripada perjalanan fisik.
Perjalanan fisik dapat dilakukan dengan tenaga, tetapi perjalanan spiritual harus dilakukan dengan hati yang terbuka, iman yang kuat dan kepatuhan total.
Dan saya menyadari bahwa perjalanan hidup saya selama ini lebih banyak mengandalkan tenaga daripada hati.
Saya berlari, bukan berjalan. Saya berkompetisi, bukan bertumbuh. Saya mengejar banyak hal yang justru menjauhkan saya dari kedamaian.
Isra’ Mi’raj mengajarkan banyak hal, tetapi malam itu saya menangkap satu pelajaran besar:
Hati harus kembali menjadi pusat perjalanan. Tanpa hati, langkah hanya menjadi rutinitas. Dengan hati, setiap langkah menjadi ibadah.
8. Refleksi 27 Rajab: Menemukan Cahaya dalam Kesederhanaan
Saat saya memejamkan mata, saya mendengar suara seorang santri melantunkan sholawat. Merdu, lembut dan sederhana. Tetapi sholawat itu seolah membuka tirai dalam hati saya.
Malam itu saya memahami bahwa cahaya tidak harus datang dari kejutan besar.
- Cahaya sering datang melalui hal-hal yang dekat
- Cahaya muncul ketika kita memberi ruang dalam hati
Dan keheningan 27 Rajab memberi saya ruang itu. Saya merasakan cahaya kecil yang tidak menyilaukan, tetapi menghangatkan. Cahaya yang membuat hati saya ingin bergerak, ingin berubah, dan ingin kembali menjadi manusia yang lebih sadar, bukan hanya manusia yang sibuk.
9. Catatan Pribadi: Apa yang Sebenarnya Saya Pelajari Malam Itu
Ketika akhirnya saya mengambil pena dan menulis beberapa kalimat di buku kecil yang saya bawa, saya hanya menuliskan tiga hal:
- Hidup bukan tentang seberapa cepat saya berlari, tetapi ke arah mana saya melangkah.
- Keheningan adalah guru terbaik ketika kata-kata manusia tidak lagi cukup.
- Tuhan sering mengetuk hati kita dalam keadaan yang paling sederhana.
Malam 27 Rajab itu bukanlah tentang peristiwa spektakuler. Saya tidak tiba-tiba menemukan visi hidup baru. Tidak ada suara gaib yang memanggil nama saya. Tidak ada kejadian mistis yang membuat saya merinding. Tetapi ada satu hal kecil yang membawa perubahan besar: saya kembali melihat diri saya sendiri.
Dan dari situlah semuanya dimulai!
10. Refleksi Hidup: Apa yang Seharusnya Kita Kejar?
Dalam perjalanan pulang dari Sidogiri, saya merasa seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. Tidak sepenuhnya sadar, tetapi juga tidak lagi sama.
Saya menyadari bahwa hidup tidak harus selalu penuh dengan pencapaian.
- Tidak harus selalu menang
- Tidak harus selalu terlihat kuat
Yang jauh lebih penting adalah:
- Apakah kita hidup dengan hati?
- Apakah kita menghormati keheningan?
- Apakah kita masih ingat untuk berhenti sesekali?
- Apakah kita masih peka ketika Tuhan mengetuk hati kita?
Dan malam 27 Rajab di Sidogiri menjawabnya dengan cara yang sederhana namun sangat mendalam:
Kembalilah, bahkan jika langkahmu lambat, bahkan jika hatimu tidak sempurna. Kembalilah!
11. Kesimpulan
Malam 27 Rajab di Pesantren Sidogiri mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu membutuhkan jawaban instan. Terkadang yang kita butuhkan hanyalah keheningan, sedikit jeda, dan keberanian untuk melihat ke dalam diri.
Keheningan malam itu membuka ruang bagi saya untuk bertanya kembali tentang tujuan hidup. Ia tidak memberi saya semua jawaban, tetapi ia membimbing saya menuju kesadaran baru: bahwa perjalanan hidup harus kembali dipimpin oleh hati yang jernih.
Dan sekarang, setelah menulis catatan kecil ini, saya ingin mengajukan pertanyaan yang semoga membangkitkan Anda seperti malam itu membangkitkan saya: kapan terakhir kali Anda berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan suara hati Anda sendiri?
Post a Comment