Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px

Januari 2026: Bulan Rajab serta Pembelajaran Berharga dari Bencana 2025

Table of Contents
Ahmad Reza Pahlevi

Ngopi Cangkir Blog — Di suatu malam yang hening pada Januari 2026, semilir angin dingin menyusup melalui celah-celah rumah yang sebagian atapnya masih belum pulih akibat terjangan hujan dahsyat setahun silam. Suara jangkrik yang berderik seolah menyampaikan kesedihan mendalam, mengingatkan akan setiap tetes hujan yang menghancurkan jalanan, meruntuhkan jembatan dan merenggut senyum dari wajah-wajah yang kukenal. Januari 2026 menjadi momen refleksi yang mendalam, bukan sekadar penanda waktu di kalender, tetapi sebuah lembaran yang menyimpan luka dan pelajaran berharga dari serangkaian bencana yang melanda Indonesia pada tahun 2025.

Tahun 2025 menjadi babak yang berat bagi Indonesia. Sebagai negara yang terletak di kawasan Cincin Api, Indonesia kembali diuji dengan berbagai peristiwa alam yang menguji ketahanan fisik dan mental masyarakatnya. Rangkaian bencana hidrometeorologi yang seakan tak berkesudahan, serta erupsi gunung berapi yang menyemburkan abu ke angkasa, menjadi bagian dari kisah kolektif tentang kehilangan, kepahitan dan refleksi mendalam.

1. Jejak Bencana 2025 yang Tak Lekang oleh Waktu

Sepanjang 2025, Indonesia Alami 2.919 Bencana: BNPB Ungkap Hampir 99% Hidrometeorologi
Tangkapan layar berita Times Indonesia

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 2.919 kejadian bencana di seluruh Indonesia selama periode Januari hingga November 2025. Bencana hidrometeorologi mendominasi dengan angka mencapai 99% meliputi; banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor. Sementara itu, bencana geologi seperti gempa bumi dan erupsi gunung berapi juga terjadi, meskipun dengan frekuensi yang lebih rendah.

Statistik ini bukan sekadar angka. Di balik setiap angka, terdapat jutaan jiwa yang terpaksa mengungsi, rumah-rumah yang hancur, jembatan yang ambruk dan hutan yang luluh lantak oleh hujan atau abu vulkanik. Di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara, banjir dan longsor mengubah lanskap kehidupan secara drastis. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan jalur ekonomi yang dulunya ramai menjadi sunyi senyap tertutup lumpur dan air bah.

Kenangan akan ucapan seorang guru tua di desa terngiang dalam benakku, Manusia boleh memiliki rencana, tetapi alam memiliki cara sendiri untuk menunjukkan batasan kendali kita. Saat banjir menerjang, bukan hanya tanah yang terendam, tetapi juga rasa aman yang selama ini kita rasakan.

2. Hidrometeorologi: Ujian yang Tiada Henti

Banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem bukanlah fenomena baru bagi Indonesia. Akan tetapi, intensitasnya sepanjang tahun 2025 membuat banyak orang tertegun. Fenomena hidrometeorologi yang dipicu oleh curah hujan tinggi dan perubahan iklim telah membuat sebagian besar wilayah Indonesia rentan terhadap bencana setiap musim hujan tiba. Bahkan menjelang akhir tahun, kejadian hidrometeorologi tetap mendominasi catatan bencana bulanan, dengan ratusan kasus yang merusak fasilitas umum dan rumah penduduk.

Sebagai seorang penulis dan blogger, aku melihat bahwa makna bencana Indonesia 2025 bukan hanya tentang angka. Ini tentang interaksi manusia dengan alam yang terus berubah.

Kisah tentang sebuah keluarga di Jawa Tengah yang kehilangan ladang padi mereka menjadi contoh nyata. Ladang yang menjadi tumpuan hidup mereka setiap tahunnya kini hanyut terbawa arus air. Di tengah keheningan setelah hujan mereda, sang ibu berujar lirih, Mungkin sudah saatnya kita belajar menanam, bukan hanya di tanah, tetapi juga di hati. Kata-kata sederhana ini mengandung makna yang sangat mendalam.

3. Erupsi: Peringatan dari Gunung yang Memanggil Kesadaran

Memahami kawasan rawan bencana gunung api
Tangkapan layar Antara News

Selain air, tanah di bawah kaki kita pun menyimpan cerita tersendiri. Sepanjang tahun 2025, beberapa gunung berapi menunjukkan aktivitasnya, menyemburkan abu vulkanik dan meninggalkan pasir halus di desa-desa sekitarnya. Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali erupsi, menebarkan debu yang tidak hanya menyelimuti tanah, tetapi juga memicu rasa khawatir akan ketidakpastian hidup.

Erupsi gunung berapi bukan sekadar fenomena geologis, melainkan simbol bahwa di balik stabilitas yang kita anggap permanen, terdapat kekuatan yang tak terlihat namun sangat nyata. Kekuatan ini mampu mengubah lanskap kehidupan dalam sekejap.

Aku pernah berdiri di kaki gunung yang tertutup kabut abu. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, menyadarkanku betapa kecilnya kita di hadapan kekuatan alam. Namun, di situlah makna yang lebih dalam terkuak: bukan hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang keteguhan untuk bangkit kembali.

4. Refleksi Spiritual di Bulan Rajab dan Sya’ban

Ahmad Reza Pahlevi

Januari 2026 bertepatan dengan masuknya umat Muslim ke bulan-bulan suci Rajab dan Sya’ban. Kedua bulan ini seringkali dianggap sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi, memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan. Makna Rajab dan Sya’ban bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang menyelami makna hidup yang lebih luas, yaitu hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia dan alam yang menopang kehidupan kita.

Setelah mengalami bencana, jiwa manusia seringkali terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan besar. Mengapa ini terjadi? Apa pesan yang tersirat di balik hujan yang tak henti-hentinya? Atau gemuruh gunung yang memaksa kita untuk mundur sejenak?

Dalam keheningan malam, aku merenungi rembulan yang samar di balik awan. Rajab bukan sekadar angka dalam kalender, tetapi panggilan untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam dan meninjau kembali jalan hidup yang telah kita lalui. Kemudian, Sya’ban menjadi waktu untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin telah kita lupakan: kasih sayang terhadap sesama, perhatian terhadap lingkungan dan do’a untuk masa depan yang belum tertulis.

Seorang teman yang memiliki pemahaman spiritual mendalam pernah berkata kepadaku, Kita sering merencanakan masa depan, tetapi lupa bahwa masa depan itu sendiri terikat pada cara kita memperlakukan hari ini. Bencana bukanlah hukuman, melainkan ajakan untuk bangkit dengan hati yang lebih bijak.

5. Belajar dari Bencana: Ketangguhan Bukan Berarti Tidak Tergoyahkan

Ahmad Reza Pahlevi

Apa yang membuat kita tetap bertahan? Di balik setiap kisah duka pada tahun 2025, terdapat pula kisah-kisah ketangguhan. Para relawan yang bekerja tanpa lelah, tetangga yang saling membantu mengevakuasi keluarga di tengah banjir, serta sekolah-sekolah yang menjadi tempat penampungan sementara.

Ada do’a bersama yang dipanjatkan di lapangan desa yang tergenang lumpur, ada anak-anak yang kembali bermain di jalan berlumpur dengan tawa riang, meskipun baru beberapa jam sebelumnya mereka menyaksikan rumah mereka terendam air. Dalam tawa kecil itu, terkandung makna yang besar: manusia mampu bertahan bukan karena mereka tidak pernah jatuh, tetapi karena mereka memiliki kemampuan untuk bangkit kembali meskipun lutut mereka gemetar.

Refleksi spiritual di bulan Januari 2026 bukan sekadar merenungkan apa yang telah hilang, tetapi juga mensyukuri apa yang masih kita miliki: waktu bersama keluarga, udara yang masih bisa kita hirup, serta kesempatan untuk memulai kembali.

Refleksi spiritual di bulan Januari 2026 bukan sekadar merenungkan apa yang telah hilang, tetapi juga mensyukuri apa yang masih kita miliki: waktu bersama keluarga, udara yang masih bisa kita hirup, serta kesempatan untuk memulai kembali.

6. Solusi Sosial: Kesiapsiagaan dan Keterlibatan Komunitas

Ahmad Reza Pahlevi

Refleksi batin perlu didukung oleh tindakan nyata. Para ahli menekankan pentingnya mitigasi bencana yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari membersihkan saluran air, menanam vegetasi di daerah rawan longsor, hingga memperkuat sistem peringatan dini.

Kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga terkait, melainkan tanggung jawab kolektif. Kesadaran lingkungan, partisipasi aktif dalam komunitas, dan kepedulian terhadap sesama adalah wujud nyata dari perbaikan sosial yang lahir dari refleksi. Saat kita membangun kembali rumah fisik yang runtuh, kita juga perlu membangun kembali empati sosial yang mungkin tergerus oleh rutinitas sehari-hari.

Kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga terkait, melainkan tanggung jawab kolektif. Kesadaran lingkungan, partisipasi aktif dalam komunitas, dan kepedulian terhadap sesama adalah wujud nyata dari perbaikan sosial yang lahir dari refleksi. Saat kita membangun kembali rumah fisik yang runtuh, kita juga perlu membangun kembali empati sosial yang mungkin tergerus oleh rutinitas sehari-hari.

7. Kesimpulan

Ahmad Reza Pahlevi

Januari 2026 memberikan kita kesempatan untuk mengolah pengalaman pahit dari bencana Indonesia 2025 menjadi pelajaran hidup yang mendalam. Banjir, longsor, dan erupsi bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin yang memantulkan kembali cara kita memandang kehidupan: tentang ketangguhan, keterbatasan, belas kasih dan harapan.

Dalam rentang waktu antara Rajab dan Sya’ban, kita diajak untuk tidak hanya merenungkan diri sendiri, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan dunia ini. Alam telah memberikan kita pelajaran yang berat, tetapi juga memberikan ruang untuk bangkit dengan hati yang lebih lembut dan berani.

Sebagai bahan renungan: Setelah semua yang kita alami bersama sebagai bangsa di tahun 2025, bagaimana cara Anda sendiri memperbaiki hubungan dengan sesama dan alam di tahun 2026 ini?

Ahmad Reza Pahlevi
Ahmad Reza Pahlevi Editorial di Komunitas Ngopi Cangkir

Post a Comment

Ruang Iklan 300 px × 50 px
Ruang Khusus Iklan 970 px × 90 px