Saat Sya’ban Tiba: Refleksi Orang Tua tentang Pertumbuhan Anak

Ngopi Cangkir Blog — Senja merayap masuk melalui jendela ruang keluarga yang terbuka. Di kejauhan, matahari mulai bersembunyi, memancarkan warna keemasan yang lembut menerpa wajah seorang anak kecil yang sedang asyik membereskan mainannya. Ibunya, seorang perempuan muda yang baru saja memasuki dunia pernikahan beberapa tahun lalu, duduk sambil mengamati putranya, tangannya mendekap cangkir teh hangat. Tiba-tiba, ponselnya bergetar halus; sebuah notifikasi kalender muncul.
“Besok sudah awal Sya’ban.”
Perempuan itu tertegun. Sekejap, namun cukup untuk membuat suasana sore itu terasa berbeda, lebih hening dan sarat makna. Ada sesuatu tentang bulan Sya’ban yang mampu menyentuh relung hati para orang tua. Bulan yang datang dengan tenang, tanpa hiruk pikuk, namun selalu membawa pesan yang mendalam: waktu terus berjalan… dan anak-anak tumbuh dengan pesat.
Di saat-saat seperti inilah seorang ibu atau ayah (yang mungkin sebelumnya disibukkan dengan tenggat waktu pekerjaan, drama kecil anak atau sekadar mencoba bertahan melewati hari-hari panjang sebagai orang tua) merasa seperti ditarik untuk berhenti sejenak. Untuk merenungkan kembali prioritas hidup.
Inilah cara Sya’ban hadir. Lembut. Namun terasa dalam.
1. Sya’ban: Bulan yang Sunyi dengan Makna yang Dalam

Dalam tradisi pendidikan anak dalam Islam, Sya’ban bukan sekadar bulan sebelum datangnya Ramadhan. Ia adalah pengingat lembut, sarana untuk menata hati, dan waktu untuk merenung. Ustadzah Halimah Alaydrus sering mengatakan bahwa Sya’ban adalah bulan untuk membersihkan diri, meluruskan niat, dan menyiapkan hati agar pantas menyambut Ramadhan. Akan tetapi, bagi orang tua, khususnya mereka yang masih muda dan baru belajar mengatur kehidupan keluarga, Sya’ban menawarkan renungan tambahan: tentang anak yang tumbuh di depan mata.
- Anak-anak tidak pernah menunggu kita siap
- Tidak menunggu kondisi keuangan stabil
- Tidak menunggu pekerjaan menjadi lebih ringan
- Tidak menunggu energi kita pulih sepenuhnya
Mereka terus bertumbuh,
Setiap hari,
Setiap detik.
Sya’ban, yang hadir setiap tahun sebagai persiapan spiritual, sering kali beririsan dengan pertanyaan mendasar: Sudahkah aku benar-benar hadir untuk anakku?
Pertanyaan ini bukanlah hal kecil. Ia dapat mengubah banyak aspek dalam kehidupan keluarga muslim saat ini; mulai dari bagaimana kita mengatur waktu, bagaimana kita membangun komunikasi yang baik, hingga bagaimana kita menciptakan momen-momen berharga di rumah.
2. Keajaiban Waktu: Bagaimana Anak Tumbuh Tanpa Izin

Para ahli psikologi perkembangan anak selalu mengingatkan bahwa setiap fase pertumbuhan anak itu unik dan tidak akan terulang. Ada momen-momen berharga yang hanya terjadi sekali:
- Saat pertama kali mereka memanggil kita dengan sebutan “Ayah”, “Ibu” atau panggilan sayang lainnya.
- Saat mereka belajar meraih tangan kita untuk menyeimbangkan langkah.
- Saat mereka hanya ingin tidur dalam pelukan kita yang hangat.
- Saat dunia mereka masih sederhana dan kita adalah pusat dari segalanya.
Masa-masa itu tidak akan berlangsung selamanya.
Dari sudut pandang pendidikan anak dalam Islam, pertumbuhan anak bukan sekadar proses biologis. Ia adalah amanah yang harus dijaga. Tugas yang bernilai ibadah. Serta kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai luhur; bukan hanya merawat fisik mereka, tetapi juga membentuk jiwa yang sholeh.
Ustadzah Halimah Alaydrus sering menyampaikan bahwa waktu yang dihabiskan bersama anak adalah ladang pahala yang sering kali terlewatkan. Banyak keluarga muslim (terutama pasangan muda yang sedang membangun karier) terlalu fokus mengejar kestabilan finansial, tanpa menyadari bahwa mereka tengah mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga: masa-masa emas pertumbuhan anak.
Sya’ban hadir bagaikan seorang sahabat lama yang menepuk pundak kita dan berbisik:
“Hai, Ramadhan sebentar lagi. Sudahkah hatimu lembut? Dan bagaimana dengan anak kecil yang selalu menunggumu?”
3. Refleksi Sya’ban: Cermin Diri bagi Orang Tua

Di awal bulan Sya’ban, Rasūlullāh ﷺ meningkatkan ibadah, membersihkan hati dan memperkuat niat. Mengapa kita, sebagai orang tua, tidak melakukan hal yang sama untuk keluarga kita?
Berikut adalah beberapa pertanyaan penting yang dapat menjadi tolok ukur bagi setiap orang tua muslim:
Sudahkah Kita Benar-Benar Hadir untuk Anak Kita?

Hadir bukan sekadar berada di rumah, tetapi hadir secara utuh:
- Mata yang menatap mereka dengan penuh kasih.
- Telinga yang mendengarkan setiap cerita mereka.
- Hati yang selalu terbuka untuk mereka.
Bukan dengan sibuk scrolling media sosial, membalas email atau melakukan banyak hal sekaligus.
Di zaman serba digital ini, kehadiran emosional jauh lebih sulit daripada sekadar kehadiran fisik.
Sudahkah Kita Menjadi Contoh yang Baik?

Dalam pendidikan anak dalam Islam, anak-anak belajar bukan dari nasihat semata. Mereka belajar dari:
- Cara kita berbicara
- Cara kita mengatasi stres
- Cara kita menyambut Ramadhan
- Cara kita berdo’a dan bersabar
Jika Sya’ban adalah bulan untuk membersihkan hati, maka bagi orang tua, Sya’ban juga menjadi bulan untuk memperbaiki perilaku.
Sudahkah Kita Menyediakan Momen Spiritual untuk Anak?

Anak-anak tidak bisa mengenal Allah hanya melalui kata-kata. Mereka membutuhkan pengalaman:
- Mendengar ayah melantunkan ayat suci Al-Qur’an
- Melihat ibu tersenyum lembut saat mengajarkan wudhu
- Merasakan kehangatan keluarga saat berdzikir bersama setelah sholat Maghrib.
Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk memulai.
4. Saat Sya’ban Mengingatkan: Anak Juga Sedang Memperhatikan Kita

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka tidak hanya meniru apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya.
Ustadzah Halimah sering mengatakan bahwa anak-anak adalah amanah yang kelak akan bersaksi tentang diri kita di hadapan Allah. Mereka merekam:
- Apakah kita sabar dalam menghadapi mereka?
- Apakah kita bersikap lembut?
- Apakah kita selalu ingat kepada Allah?
- Apakah kita hadir saat mereka membutuhkan kita?
Sya’ban mengingatkan kita bahwa proses pencatatan ini berlangsung terus-menerus. Tidak berhenti hanya karena kita merasa lelah atau sibuk.
5. Langkah Optimalkan Sya’ban Untuk Orang Tua Muda
Tulisan ini bukan cuma berguna sebagai refleksi, melainkan sebagai solusi. Berikut contoh yang bisa dilakukan keluarga muslim dalam meningkatkan kualitas bersama anak-anak di bulan Sya’ban.
Buat Jadwal Bebas Gadget di Rumah

Paling tidak 30–45 menit setiap hari. Fokuslah pada:
- Bermain bersama
- Membaca buku
- Berdiskusi sederhana
- Mengaji bersama
Inilah investasi emosional yang berbuah manis hingga bertahun-tahun lamanya.
Buat Agenda di Bulan Sya’ban Bersama Keluarga

- Berdo’a sebelum tidur yang diucapkan berulang-ulang
- Berzikir singkat sebelum memulai aktivitas pagi
- Membaca sirah Nabi untuk anak-anak
- Berbagi cerita kebaikan sebelum tidur
Kebiasaan kecil ini menumbuhkan spiritualitas anak-anak dari usia dini.
Libatkan Anak dalam Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Ajak mereka untuk:
- Menempel stiker kalender untuk menghitung mundur hari menuju Ramadhan
- Membantu menata ruang sholat di rumah
- Memilih buku-buku islami yang akan dibaca selama bulan suci
Hal ini membuat mereka merasa jadi bagian penting dalam perjalanan spiritual keluarga.
Ajak Anak Bersyukur

Ajarkan anak-anak untuk menyebutkan tiga hal yang mereka syukuri setiap harinya. Latihan sederhana ini membantu membangun kesehatan mental dan spiritual mereka.
Buat Pelukan Sya’ban

Ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar. Setiap malam, peluk anak Anda sambil berkata:
“Hari ini kamu tumbuh semakin besar, dan Ibu/Ayah bersyukur Allah memberikan kesempatan untuk membersamaimu.
Ini mempererat ikatan batin dan menanamkan rasa aman yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
6. Mengapa Awal Sya’ban Begitu Menyentuh Hati Orang Tua?

- Karena usia anak kita hari ini tidak akan pernah kembali lagi
- Karena Sya’ban selalu mengingatkan kita betapa cepatnya waktu berlalu.
- Karena kita tahu (di lubuk hati yang paling dalam) bahwa terlalu banyak momen berharga yang terlewatkan
Sya’ban memaksa kita untuk bercermin:
- Bahwa anak kita bukan lagi bayi yang dulu kita gendong
- Bahwa mereka sedang dalam proses menjadi diri mereka sendiri
- Bahwa waktu yang kita miliki bersama mereka adalah anugerah yang tak ternilai
Atau seperti yang pernah dikatakan Ustadzah Halimah:
“Anak itu hadiah dari Allah. Tapi hadiah itu bertumbuh. Dan ketika ia bertumbuh, ia membuat kita ikut bertumbuh.”
7. Saat Sya’ban Mengembalikan Kita pada Esensi Rumah Tangga: Kasih Sayang

Sering kali, keluarga muslim terjebak dalam rutinitas:
- Urusan rumah tangga
- Pekerjaan
- Kewajiban sosial
- Aktivitas ibadah
Namun, mereka melupakan esensi dari sebuah rumah: ketenangan dan kasih sayang.
Sya’ban adalah kesempatan untuk:
- Memperlembut komunikasi di antara anggota keluarga
- Memperbaiki hubungan suami-istri. Saling memaafkan
- Memperkuat niat untuk membangun keluarga yang diridhoi Allah
Anak-anak akan merasakan perubahan itu. Mereka akan tumbuh dalam suasana rumah yang lebih hangat, lebih spiritual, dan lebih penuh cinta.
8. Kualitas Waktu: Bukan Sekadar Jumlah, Tapi Makna

Orang tua muda sering kali merasa bersalah karena tidak punya banyak waktu untuk anak-anak mereka. Akan tetapi, yang terpenting bukanlah berapa lama waktu yang dihabiskan, melainkan kualitas interaksi yang terjalin.
Beberapa menit yang diisi dengan perhatian penuh, cinta dan interaksi yang bermakna bisa jauh lebih berharga daripada satu jam yang diselingi dengan gangguan.
Inilah yang perlu kita sadari saat Sya’ban tiba:
“Bagaimana caraku menggunakan waktu yang Allah berikan untukku bersama anak-anak dengan sebaik-baiknya?”
9. Sya’ban: Jembatan dari Lelah Menuju Ikhlas

Di antara dua sisi kehidupan orang tua (antara lelah dan bahagia) terbentang sebuah jembatan bernama keikhlasan. Sya’ban membantu kita untuk menyeberangi jembatan itu dengan mengingatkan:
- Anak adalah amanah yang harus dijaga
- Mengasuh mereka adalah ibadah yang mulia
- Setiap peluh yang menetes adalah pahala yang tak terhingga
- Kesabaran dalam menghadapi anak adalah sedekah harian
Ustadzah Halimah kerap mengatakan bahwa setiap detik yang kita habiskan bersama anak adalah ladang amal. Kita mungkin tidak selalu sempurna, tetapi Sya’ban mengajarkan kita untuk selalu memperbaiki niat, melembutkan hati, dan memperbaiki cara kita mendampingi pertumbuhan mereka.
10. Kesimpulan

Sya’ban hadir bukan untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyadarkan kita.
Bahwa waktu tak mungkin diulang.
Bahwa anak-anak akan tumbuh lebih cepat dari yang bisa kita bayangkan.
Bahwa sebagai keluarga muslim, kita perlu menjadikan Sya’ban sebagai waktu untuk merenung, meningkatkan kualitas kehadiran kita, dan menanamkan nilai-nilai spiritual di dalam rumah.
Saat kita menjadikan awal Sya’ban sebagai titik balik, kita tidak hanya mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan. Kita juga mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang lebih lembut, lebih hadir, dan lebih sadar akan betapa berharganya setiap momen dalam perjalanan pertumbuhan anak-anak kita.
Pertanyaannya adalah: Di awal Sya’ban yang baru ini… kehadiran seperti apa yang ingin Anda berikan untuk anak Anda?
Post a Comment